Maka, mendadak saya terpaksa menjelajah review dan komentar perihal per-steak-an di seputar jogja utara, sementara ia tertidur lelap di samping saya.
Sebetulnya tidak banyak jendela yang saya buka. Ditambah, saya jadi ikut ngantuk mendengar dengkur halusnya. Pun dari yang sedikit itu, hanya beberapa nama kedai steak yang mencuri perhatian saya. Nah, tapi bayangkan, deh. Saya mesti mengira-ngira rasa sekerat daging, melalui keping-keping kisah dan tulisan orang lain (yang tentu punya standar lidahnya sendiri). Jadi, terpaksa (lagi) saya menggunakan intuisi ketika memilih. Ketika akhirnya saya memilih untuk ikutan tidur, satu referensi kedai sudah tersimpan dalam kepala.
Sekerat daging yang membayang dan liur yang membanyak terpaksa ditunda karena sekeluarga teman datang bersambang. Baru selewat pukul sembilan, saya dan Mas Bo kelayapan mencari makan. Tadinya, bahkan niat untuk makan steak hampir pupus, digantikan menu rutin ketika pilihan makanan seolah tak lagi banyak: sambel bawang Terminal Condongcatur. Alasan Mas Bo, takut sudah tutup. Saya, yang sudah bela-belain menunda hasrat untuk tidur demi menjelajah jendela maya, buru-buru pasang muka ngambek. Berhasil, dong. Mas Bo mengalah. Jadilah kami meluncur turun, dari Kentungan ke Jalan Kaliurang no 24 KM 5.
Pilihan intuitif saya jatuh pada Sepiring Bistro (t: 0274514692 | @sepiringbistro), kedai makan yang barangkali sudah ratusan kali kami lewati tapi tak pernah dilirik. Ketika kami sampai, resto itu sepi; mungkin karena sudah bukan jam makan, yaaa. Kesan pertama saya: menyenangkan. Banyak tempat duduk empuk! Saya suka resto bersofa, karena rasanya itu berarti mereka membiarkan kita berlama-lama berkubang nyaman di sana. Karena saya dan Mas Bo memilih area merokok, maka kami melesat ke lantai dua.
Jelas kami tak berlama-lama menyimak menu, karena lapar sudah lama terlewat. Maka, saya memesan steak ayam (tadinya kepingin pesan steak salmon, tapi kata Mbak-nya 'belum ready'), sementara pilihan Mas Bo jatuh pada Double Decker (salah satu varian mixing meat), semacam daging ayam yang mengempit daging sapi-keju di tengahnya. Biar nggak seret, saya memesan air pear jahe sebagai teman makan, sementara Mas Bo setia dengan air putih-nya.
Sekitar 15 menit kemudian, pesanan kami datang. Sebelumnya, compliment berupa dua gelas air putih dan keripik singkong segera terhidang setelah kami memesan. Menyusul, air pear jahe pesanan saya. Ini menyenangkan lho, karena beberapa resto sekelas Sepiring Bistro agak lambat mengantar pesanan minuman, bahkan ada yang mengantar makanan dulu, air minum menyusul kemudian. Baiklah. Kembali ke menu utama. Saya dan Mas Bo segera sibuk mencicip pesanan masing-masing dengan penuh penghayatan. Dan, ....
![]() |
| Chicken steak yang tak lagi utuh |
Steak ayam saya datang bersama kentang tumbuk, saus keju krim, manisan kubis merah, dan krim bayam. Konon, semua steak Sepiring diperlengkapi dengan macam-macam olahan kentang; tumbuk, rebus, dantralala. Plus manisan kubis merah dan krim bayam. Ketika sepotong ayam bersalut keju krim bersama kentang tumbuk, manisan kubis merah, dan krim bayam beradu dengan lidah, rasanya seolah lumer dalam mulut. Manis, creamy, gurih keju, sepercik rasa lada di kentang tumbuk, dan bumbu yang pas melengkapkan sukacita saya malam ini. Juga asam-gurih jamur yang sesekali menyeruak. Nyamm. Enak! Tak ada rasa terganggu akibat daging ayam bagian dalam yang terasa kurang matang, tak ada sebah perut gara-gara MSG berlebihan (catatan: resto ini menyatakan masakan mereka tanpa penyedap rasa). Buat saya, sempurna.
Porsinya juga mengenyangkan, bahkan untuk Mas Bo. Dengan sedih, saya terpaksa meninggalkan sepertiga kentang tumbuk di piring saya karena perut tak lagi muat. Baru jam setengah sebelas, setelah muatan dalam perut sedikit turun, kami beranjak dari Sepiring.
Secara keseluruhan, saya merekomendasikan Sepiring Bistro. Pelayanannya memuaskan, tempatnya nyaman (area merokoknya manusiawi--sayang, bising Jalan Kaliurang lumayan mengganggu), dan ... harga yang tertera di menu sudah termasuk pajak! Buat saya, harga yang dibayarkan sangat sebanding dengan rasa, porsi, dan kenyamanannya. Catatan: beberapa resto lain dengan standar harga yang sama menawarkan kualitas makanan yang menurut saya lebih rendah.
Chicken Steak, Rp 35k
Double Decker, Rp 41k
Salmon Steak, Rp 59k
Wagyu Steak, Rp 129k & Rp 159k
Air pear jahe, Rp 13k
Air lemon jahe, Rp 11k
Rata-rata jus berbagai rasa, Rp 15k
Air mineral, gratis
Kami keluar resto dengan hati lapang. Angan-angan akan sekerat daging sudah dituntaskan. Mas Bo dan lidahnya tak lagi gelisah. Terima kasih, Sepiring! Untuk kenyang yang awet! []

No comments:
Post a Comment