Wednesday, November 13, 2013

Insiden Sop Ayam yang (tak terlalu) Bikin Penasaran

Gara-gara mendadak pilek, dan Jogja hujan deras sejak menjelang sore, menu makan malam yang terbayang-bayang di kepala saya adalah sop panas pedas dan nasi putih. Maka, ketika Mas Bo bertanya seperti biasa: "Mau makan apa malam ini?", saya langsung menjawab mantap: sop ayam Sambel Bawang.

Sebetulnya ada dua warung sop yang biasa saya datangi (referensi saya memang cuma dua, hiks...): Mega Sop Klebengan dan warung Sambel Bawang Cak Ilham Terminal Condongcatur, yang juga menjual sop dan soto. Kali ini, supaya gampang dan dekat--dan karena rasa sop Mega Sop luar biasa standar--saya pilih Terminal Concat punya. Tapi, seperti biasa, kami bertualang dulu sebelum makan; cari mangga bakal obat ngidam, cari softcase buat hape-nya Mas Bo, plus mampir ke rentalkamera.com untuk kebutuhan masadepan. #uhuk! Setelah itu, baru kami meluncur ke Terminal Concat.

Mujur (atau malang, ya?), tenda warung Cak Ilham tampak tanpa bekas. Mungkin karena malam ini memang tutup, atau kami kehabisan. Maklum, sudah jam 10 malam ketika kami sampai. Jadilah, saya dan Mas Bo berkeliling terminal untuk mencari makanan berkuah yang sudah saya bayang-bayangkan sejak sore. Dan..., eh!

Ternyata, di deretan sebelah utara Terminal Condongcatur, ada kedai sop! Spanduknya cukup menarik, dipasang di foodcourt mal kecil macam Galeria juga masih pantas. Kalau tidak salah, judulnya adalah "Warung Spesial Sop", kedai keempat dari timur, diapit warung Mie Jakarta dan Mie Jawa. Yang lucu, ketika kami datang, yang menyambut adalah mas-mas muda, kelihatannya bukan orang Jawa (agak mirip orang Batak), dan tidak kelihatan seperti penjual makanan. Sebetulnya, saya sempat ragu. Apalagi melihat penampilan si mas yang lebih mirip preman amatiran daripada tukang warung makan. Tapi baiklah, pilihan sudah dijatuhkan. Saya dan Mas Bo sama-sama memesan sop ayam kampung. Apa pun risikonya, kami akan tanggung. :P

Tak sampai lima menit kemudian, minuman datang. Bagus. Sebaliknya, proses memanaskan sup-nya makan waktu agak lama, barangkali sekitar 15-20 menit, karena saya sempat tolah-toleh ke dapurnya saking tak sabar. Untung, tak lama setelah tolah-toleh, pesanan kami pun datang, diantar oleh mas-mas berwajah gahar tapi super-sopan tadi. Asik! Akhirnya, makan!

Semangkuk sop ayam kampung puanas; nyamm...
Ketika sendok pertama saya perlahan-lahan mengantar kuah sop ke mulut, hati kecil saya langsung melonjak. Sedap! Sedap yang bukan dari penyedap rasa, atau kalaupun oleh penyedap, porsinya sangat manusiawi. Buru-buru saya melahap sop ayam kampung yang puanas mendidih dan pedas itu. Hmmmm.....

Yang membuat ia nyantol di hati saya adalah, rasanya mengingatkan pada sop ayam bikinan alm. nenek saya, dulu. Mirip, meskipun yang ini lebih sedap (mungkin karena faktor penyedap rasa tadi). Ayamnya juga serius ayam kampung, alot dan rasanya khas, tapi enak. Dalam semangkuk sop, ada dua potong ayam yang besarnya cukupan (seperti foto di atas), dengan potongan wortel, kentang, tomat, seledri, dan taburan bawang goreng. Sebetulnya sangat standar, dengan keistimewaan yang sederhana: rasanya mirip sop bikinan ibu di rumah. Sangat berbeda dengan Mega Sop yang cenderung 'pura-puranya sop', atau sop Cak Ilham yang memakai kemiri sehingga kuahnya agak kental seperti soto Surabaya, plus ayamnya adalah suwiran ayam potong-goreng (dengan rasa penyedap yang kentara). Selain bercitarasa rumahan, sop ayam kampung ini juga bersih. Rasanya 'bersih'. Agak sulit sih, mendeskripsikan maksud 'rasanya bersih', tapi kira-kira begitulah. Silakan dipahami dengan perasaan. :D

Harga yang dipatok juga tak terlalu mahal. Untuk semangkuk sop ayam kampung plus nasi putih, kami membayar Rp 13.000,-. Segelas minuman juga hanya dihargai Rp 2.000,- layaknya angkringan. Tapi jangan berharap banyak, karena hanya ada teh, jeruk, dan air putih di sana. 


Sop Iga Sapi, Rp 13.000,-
Sop Buntut Sapi, Rp 13.000,-
Sop Ayam Kampung, Rp 11.000,-
Nasi putih, Rp 2.000,-
Teh (hangat/es), Rp 2.000,-
Jeruk (hangat/es), Rp 2.000,-
Air putih, lupa berapa :D

Jadi, jika kangen sop ala rumahan, cobalah mampir ke kedai ini. Kapan-kapan mungkin saya akan mencicipi Sop Buntut atau Sop Iga-nya, jika lagi-lagi mendadak kepingin sop dan Jogja hujan sore-sore. 

Ketika berjalan ke tempat parkir, saya berkata pada Mas Bo. "Berbakti sekali, ya. Itu masnya, bantuin ibunya jualan makanan di warung."
"Apa iya? Biasa aja, ah," kata Mas Bo.
"Ih, emangnya kamu mau disuruh nemenin Ibu jualan kayak gitu?"
Lantas, seperti biasa, kami pun eyel-eyelan. Tapi sumpah deh, setelah membayar dan dilayani dengan sangat sopan oleh mas-mas berwajah gahar itu, saya langsung berpikir: jarang-jarang deh, di zaman sekarang, ada anak laki-laki yang bersedia menemani ibunya di warung seperti itu. Pantas saja jika rasa sop-nya sangat rumahan 'ala ibu'. Barangkali karena kokinya, sang ibu berwajah Batak atau Sumatera, merasa tentram ditemani putra tersayang. Meskipun sebenarnya saya tidak tahu, apakah si mas muda itu betul anak si ibu koki atau bukan. Tetapi anggaplah begitu. Supaya saya bisa bilang: manisnyaaa. []

1 comment:

  1. Tadi nyicip sop iga sapi-nya. Lumayan, semangkuk dapat 2 potong iga sapi. Sedap juga, meski buat saya lebih sedap sop ayam kampung-nya.

    ReplyDelete